Pantaskah kita belajar dari seorang Marouane Fellaini?

By | September 6, 2017

Pernahkan kalian membayangkan menjadi orang yang terlihat hina didepan orang banyak, bahkan kalian merasa tidak ada satupun orang yang mau menginginkan anda? Bila pernah, belajarlah dari Marouane Fellaini.

Kembali ke musim 2013/14 saat David Moyes merekrut salah seorang gelandang energik di Liga Inggris dengan nilai 28 juta pounds yang bernama Marouane Fellaini. United yang dihubungkan dengan Ander Herrea dan Cesc Fabregas (nama pertama akhirnya bergabung ke United) pun mendapat cemooh saat yang datang ialah Fellaini. Dia dianggap kurang berkualitas  atau tak memperlihatkan penampilan impresif.

Alhasil, United hancur total. David Moyes hanya bisa merampungkan sepuluh bulan dalam 6 tahun kontrak yang dia tandatangani. Fellaini pun langsung jadi kambing hitam disetiap pertandingan yang dia mainkan. Musim 2013/14 United seolah tengah menjalankan sebuah projek seriak komedi yang layak ditertawakan setiap minggunya.

Setelah Moyes dipecat, United kehadiran pelatih asal Belanda  yang berhasil menggebrak dunia dalam ajang Piala Dunia 2014 lalu. Posisi ke 3 sukses direbut, serta pendukung United bersorak menyambut kehadiran Louis Van Gaal. Tapi Fellaini dilaporkan akan dijual. Setidaknya seperti itulah rumornya.

Tapi takdir pun berkata lain, dia mengalami cedera misterius di menit-menit akhir jendela transfer, selepas dirinya dikabarkan sebentar lagi bakal merapat ke Napoli. Bila anda pendukung United, jujurlah kepada diri anda sendiri, setelah musim yang sangat buruk anda percaya kalau selepas memecat Moyes, menjual Fellaini merupakan cara pamungkas guna mengembalikan kejayaan klub.

Kini anda bayangkan menjadi seorang Fellaini. Misalnya begitu, awalnya anda baru pindah ke salah satu perusahaan. Dalam perusahaan itu tak ada satupun yang menyukai diri anda. Setiap anda masuk kedalam kantor, anda hanya bakal dipandang sinis, atau dicemooh serta diremehkan. Setiap perusahaan anda mengalami jalan buntu, anda pun dinilai sebagai biang keladinya.

Tapi Fellaini merubah semua prediksi. Tak menyia-nyiakan peluang dari cedera yang dia alami, dia bisa bangkit serta perlahan mulai membuka golnya serta beberapa kali sukses memecahkan kebuntuan yang dialami United. Diawali dengan gol indah ketika kontra West Brom, dan dilanjutkan dengan gol lainnya.

Setelah Van Gaal pergi, kemudian Jose Mourinho datang dengan membawa Paul Pogba. Fellaini lagi dan lagi diperkirakan bakal tersisih. Setengah musim sudah berjalan serta Fellaini tetap dipercaya bahkan selepas kecerobohan yang dia lakukan ketika bertandang ke markas Everton di Desember 2017.

Namun Mourinho menutup telinga. Banyak sekalii yang mempertanyakan putusan Mourinho ketika masih mempertahankan pemain yang bahkan tak dapat mengumpan lambung.

Tapi Fellaini bisa membuat kita belajar jika menyerah bukanlah pilihan. Dia bisa memanfaatkan kesempatan disaat kesulitan datang, serta ketika ituah dirinya mendapat applause dari banyak orang yang dulu pernah  membencinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *